PETRIKOR

Wangi yang terindu.
Segumpal suka pada nestapa.
Langit yang memerah buah dari bibir.
Gumpalan semu, tanda mati.

“Gemintang itu merajuk …, mungkin marah pada sang Khalik!” Ucapmu lembut pada daun kepalaku.

Tumpah ruah kaca-kaca jendela seperti serbuk di mata.
Mengkikis barisan rindu pada hujan, merobek kata cinta teruntuk langit.
Lembaran kembali terhelai atas nama do’a.

Tuhan…
Aku mencari langit biru tersembunyi.
Semua berlapis candramawa tak ber-ruang.
Aku rindu, mohon dalam doa kembalikan langit biruku.
Gegap gepita seruan aku dendangkan, lagu-lagu perih menjadi nada.
Tentangmu pelukis alam pancarona.
Rinduku terkasih, sungguh!

Luruh …, kubah-kubah bahagia itu sirna tertelan gelembung nestapa.
Porak poranda seperti badai dalam alunan melodi risak.

“Ini cobaan, Nun!” Jelas terdengar suaramu kembali.

Petrikor dalam genggaman langit, aku rindu. 
Sungguh!
Seperti teriakan-teriakan halilintar yang dulu terumpat takut, kini merindu membabi-buta.
Arah yang salah, langit merundung marah.

“Sabar, Nun,” lembut ucap bibirmu

Kembali pada-Nya…
Ya Rahman, ya Rahim… Segala zat milikmu tanpa umpama.
Candala hanya pada-MU, ya Karim…, segala rahmat tempat meminta.
Biarkan kami menikmati petrikor hari ini, tanpa terlewat doa rahmat-MU.

Ya Robbi dalam dekapan tasbih yang melinang.
Seuntai do’a kukirim kelangit, terbanglah menuju dada angkasa.
Kabarkan…!
Kabarkan…!
Kami rindu langit biru, mohon kembalikan!
Walau sejenak saja dan biarkan kami menikmati swastamita ciptaan-Nya.

Lampung 

Footnote/catatan:

1. Petrikor: Harum tanah saat terkena hujan (saya ambil dari pasar bahasa, ini dari bahasa asal Inggris yunani)
2.gemintang (banyak bintang/ rasi bintang)
3.candramawa: hitam bercampur putih.
4. Pancarona: banyak warna
5. Risak: mengusik, menganggu.
6. Candala: rendah diri/ merasa rendah diri.

Iklan

Menikah

image

Pagi yang ranum, semalam turun hujan membuat beberapa jalan menguasai air dalam genangan, pagi ini aku berjumpa kawan masa SMA di kedai kopi. Kita lama tak berjumpa hampir 10 tahun semenjak lulus SMA disebabkan kawanku ikut ibunya pindah ke kota kelahiran ibunya Gorontalo, kawanku ini bernama Riana.
Gadis cantik dengan kulit sawo matang,
“Hai Ar, apa kabar?” sapa yang ramah buat aku sedikit tersentak karena dia tidak sama sekali lupa padaku.
“Baik, Hmmmm… Riana ya?” tanyaku dan sedikit mengingat.
“Yup.. .”
Kamipun berbagi cerita kehidupan kami,
“Kamu dah nikah Ar?” pertanyaan yang terlontar buat hatiku sedikit berdekup.
“Belum, kamu?” jawaban sekaligus pertanyaan ku lontarkan padanya.
“Cepat nikah nanti keburu menopause, baru menyesal.” Lanjutnya sambil tertawa.
Aku tersenyum melihat tawanya yang renyah.
“Aku menikah dengan orang yang sepuluh tahun lebih tua dariku,” lanjutnya “tapi bahagia sangat bahagia karena dengan begitu godaan rumah tangga kami sedikit berkurang.” Kembali dia tersenyum.
“Apa godaan terbesar pada rumah tangga?” Pertanyaan yang menurutku bodoh.
Sambil membenahi tudungnya Riana menjelaskan
“Godaan terbesar pada pernikahan adalah perselingkuhan, tapi aku tidak menyalahkan semua itu karena semua ada sebab akibat,” Riana berhenti untuk menghirup kopinya, “salah satu penyebab adalah ketika seorang perempuan mengalami menopause, dimana itu pada kisaran wanita berumur 35 sampai 40, pada umur itu seorang lelaki puncak sex meningkat sedangkan wanita lebih cendrung menurun, terjadilah ketidak puasan dan perselingkuhan.” Penjelasan begitu lebar yang buat aku tertegun.

“Lalu bagaiman dengan pasangan pernikahan dini, mereka berpatokan ‘ lebih baik menikah dari pada pacaran dan mendekati zina’ itu menurut agama yang kita anut.” Lanjutku

“Pernikahan dini boleh-boleh saja asal masing-masing pihak itu siap dengan segala resiko, karena pernikahan dini itu lebih banyak godaannya, sebab apa pertama; perekonomian masih belum matang, kedua; tingkat emosi belum bisa cukup untuk mengendalikan, itu sebabnya banyak terjadi perceraian dan kekerasan rumah tangga,” Riana menghela nafas dalam.

“Ada sebuah hadits;
Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud),” Riana menatapku tajam,  “kamu tau maksud dari hadits itu Ar ?” Lanjutnya.

Akupun menggeleng.
“Banyak orang berpikir menikah menghindari zina padahal dalam hadits tersebut benar di jelaskan ‘jika mampu’ artinya mampu dalam segala hal, baik ekonomi dan pertanggung jawaban kita dunia dan akhirat, memang rezeki Allah yang atur dan tidak akan tertukar, tapi apa iya kita cukup berdoa tanpa usaha,” mata indah Riana begitu berbinar, “lanjut lagi pada hadits tersebut “jika tidak mampu” baiknya berpuasa, berpikir saja jika tidak mampu untuk bertanggung jawab jangan menggunakan alasan daripada zina, dengan begitu akan banyak perceraian, menikah itu bukan untuk satu hari atau satu Minggu atau satu bulan bahkan satu tahun, tidak juga untuk percobaan.” Riana menghela nafas kembali.

“Menikah untuk seumur hidup jua untuk teman kita kelak kesurga,” Riana kembali melanjutkan ceritanya.

Aku menatap gelasku yang kosong, entah kenapa aku begitu takut untuk menikah, padahal menikah adalah golongan umat Rosul.

“Lalu bagaimana caranya supaya kita tidak memberi peluang suami kita selingkuh?” Pertanyaanku kembali soal perselingkuhan.

“Keterbukaan, itu yang utama,” ucapnya sambil memanggil pelayan untuk segelas air putih, “dengan terbuka kita akan merasa dibutuhkan dan membutuhkan.” Lanjutnya.
Tangan Riana Kembali melambai kali ini pada seorang lelaki bertubuh tegap dan tiga orang gadis kecil.
Mereka adalah suami dan anak-anak Riana.
“Apapun masalahmu maka, kamu mesti terbuka dengan pasanganmu, dengan begitu akan ada saling percaya dan itu nomer satu’kepercayaan’ dia adalah pondasi terkuat dalam rumah tangga,” mata beningnya lekat menatapku, “okey, saya jalan dulu. Semoga kamu mendapat pasangan yang dapat menuntunmu menuju surga Allah, amiin.” Riana berdiri dan memelukku erat.

Pagi ini adalah pagi yang sempurna, membuka lebar mata hatiku.
Rianapun pergi dengan suami dan tiga buah hatinya.

Kehidupan dalam pernikahan tidak bisa kita hindari tapi mesti kita jalanin sesulit apapun itu.
Tamat, Lampung 29-10-2015

Kelopak Ungu

  •   Barisan Puisi terhantar sudah. Surat-surat cinta terjerami jua, Pada; Bapak Presiden, para jajarannya.
  • Sekelopak bunga layu dengan janin.Mata Ini sembab bukan atas nama air mata. Beribu Surat terkirim, entah engkau membaca atau tidak.Mungkin tiba-tiba kau buta huruf karena itu.Langit kami kelam, tertutup tangan-tangan setan.Langit kami rindu airmata, barisan daki menutup kornea.Iba, hanya sandiwara.Tersentuh, diam tanpa bicara.

Ya Robbi…

Berapa ruang lagi pada paru-paru kami mesti bertahan.Lagu-lagu Indah bibir-bibir mungil kini muncul di dada.

Ya… Al-Malik segala puji ampunan untukmu Maha Segalanya.

Ya… Al-Rahman bakti suci terwujud keagungan-MU dari Maha Sejahtera.

Beri kami kekuatan atas Nama-MU dibarisan duka ini.

Lampung, 080915